PENCABULAN YANG DI LAKUKAN OLEH ANAK, BISAKAH DI PIDANA?

 

PENCABULAN YANG DI LAKUKAN OLEH ANAK, BISAKAH DI PIDANA? 

Penulis : Pegi Perdianti

Universitas Riau. 

 Ribuan Kasus Kekerasan terhadap Anak Terjadi selama Pandemi Covid-19

 Sumber gambar :https://pict-c.sindonews.net/dyn/620/pena/news/2020/06/24/15/79810/ribuan-kasus-kekerasan-terhadap-anak-terjadi-selama-pandemi-covid19-kgf.jpg

 

Salam sejahtera semua. yuk, menambah pengetahuan hukum disini,  Materi kali inI saya akan mengupas secara singkat dari berbagai literatur yang saya baca seputar pidana pencabulan yang di lakukan oleh anak. Yuk check it this below.

Dalam praktiknya pencabulan sering di lakukan oleh orang dewasa kepada kaum perempuan, namun seiring dengan perkembangan zaman,  dan berkembang nya teknologi, yang sulit di batasi pada era milenial ini, menjadikan seseorang dengan mudah mengakses situs-situs yang tidak mendidik moral.  Sehingga anak-anak bisa menjadi pelaku dalam tindak pidana pencabulan.

Yang menjadi pertanyaan adalah,  bisakah anak sebagai pelaku tindak pidana pencabulan dipidana?

Menurut Soetandyo Wignjosoebroto, pencabulan adalah suatu usaha melampiaskan nafsu seksual oleh seorang laki laki terhadap perempuan dengan cara menurut moral atau hukum yang berlaku melanggar.

Menurut Arif Gosita,  pencabulan dapat di rumuskan dari beberapa bentuk perilaku yang di antaranya : 

     a.    Korban pencabulan harus seorang wanita,  tanpa batas umur,  sedangkan ada juga seorang laki-laki yang di cabuli oleh wanita.

      b.Korban harus mengalami kekerasan atau ancaman kekerasan.

c. Pencabulan di luar ikatan pernikahan adalah tujuan yang ingin di capai dengan melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap wanita tertentu.

Penerapan sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana pencabulan tidak hanya di lakukan oleh orang dewasa saja,  anak-anak juga bisa menjadi pelaku pencabulan.  Dalam hal anak sebagai pelaku tindak pidana,  digunakan  Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) yaitu  terhadap anak yang berkonflik dengan hukum,  dimana didalam undang-undang itu di sebutkan usia yang ditentukan bahwa anak tersebut sudah cakap hukum apabila telah berumur 12 tahun,  tetapi belum berumur 18 tahun yang di duga melakukan tindak pidana.

Dalam hal anak  yang melakukan tindak pidana pencabulan, pertanggungjawaban pidana dapat diterapkan apabila Anak telah mencapai Usia 14 tahun.  Jika saat pada terjadinya pencabulan anak masih di atas 12 tahun, dan belum mencapai 14 tahun, maka ancaman pidananya adala 1/2 dari pidana penjara orang dewasa (Pasal 76 E UUPA) , kemudian,  jika di ancam pidana mati maka terhadap anak di jatuhi pidana penjara paling lama 10 tahun. 

BISAKAH PENYELESAIAN PERKARA TINDAK PIDANA PENCABULAN OLEH ANAK DI LAKUKAN DIVERSI?  APA ITU DIVERSI?.

Diversi merupakan pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana, sebagaimana di sebut dam pasal 1 angka 7 UU NO. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak (UU SPPA) 

Diversi hanya dapat di lakukan terhadap anak dengan pidana penjara di bawah 7 tahun,  dan tidak ada penggulangan tindak pidana ( harus terpenuhi keduanya). Dalam kasus pencabulan ini,  dimana pelaku di jatuhi pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda 5.000.000.000,- ( lima milyar rupiah) pasal 76 E UUPA,  maka diversi tidak dapat di lakukan. 

 

Terimakasih. 

Selamat membaca.

Mohon kritik dan sarannya ya.

 

Sumber Bacaan :

 Jurnal Redian Syah Putra, Yoskan Kadarisman,  2016, Kriminalitas di kalangan remaja pelaku pencabulan,  Universitas Riau.

Jurnal Febriana Annisa, Penegakan Hukum Tindak Pidana Pencabulan dalam Konsep Restrorative Justice.

  Salam Justitia!

Post a Comment

0 Comments